Jarang Dilakukan, Ini Kisah Pemuda di Pinrang yang Menggeluti Pertanian Organik

Jarang Dilakukan, Ini Kisah Pemuda di Pinrang yang Menggeluti Pertanian Organik

AA
Andi Ade Agsa

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Pinrang -- Di era sekarang ini, memang jarang betul anak-anak muda yang serius dalam menggeluti sektor pertanian. Tapi di Pinrang tidak begitu.

Munawir Azis salah satunya. Bersama dengan beberapa pemuda asli dari Bumi Lasinrang lainnya kini terjun langsung di sektor pertanian. Namun bukan yang konvensional. Mereka ingin mendengungkan pertanian organik di Tanah Sawitto.

"Kami sebetulnya, hanya anak muda yang ingin belajar bertani, namun dengan segala keterbatasan memilih metode organik, nah itu dengan harapan bisa lebih efektif, efisien, edukatif dan tentunya sehat," beber Alumnus Teknik Sipil Unhas itu, Jumat 8 April 2022.

Nawir bercerita, jika telah menguji efisiensi dan efektifitas dari metode organik di sektor pertanian. Ia bersama teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Study Organik Farm telah menguji itu di lahan masing-masing.

"Hasilnya bagus. Dan kami sekarang sedang menggaet para petani. Untuk menggunakan metodelogi organik ini. Salah satunya itu Pak Damis di Palia Kecamatan Paleteang," jelasnya.

Petani itu, kata Nawir, bersedia digunakan lahannya. Ia dipercayakan lahan seluar 13 are untuk uji coba itu. Padi organik lalu dicoba. Dengan nutrisi yang dbuat sendiri dan tentunya tanpa menggunakan zat anorganik padi itu tumbuh baik dan telah dipanen.

"Alhamdulillah 13 are itu bisa dapat 800 kilogram gabah. Biaya produksi dengan metode organik juga sangat minim. Kami hitung Rp800 ribuan saja. Padahal kalau non-organik atau yang konvensional biayanya bisa bengkak sampai mendekati Rp2 jutaan," rincinya.

Selanjutnya Nawir mengaku, lahan seluas 13 are itu kini ditanami semangka. Nutrisi tanamannya juga dibuat sendiri dan tentunya pakai metode organik.

"Hasilnya juga sesuai ekspektasi. Biaya produksi untuk semangka itu cuma Rp1 jutaan. Hasilnya bisa peroleh sekitar 500 buah semangka," sebutnya.

Nawir menjelaskan, ia dan teman-temannya dalam komunitas Study Organik Farm sangat terbuka dengan mereka yang ingin bergabung, apalagi bagi para petani yang ingin meninggalkan cara-cara lama (konvensional) dan beralih ke metode organik.

"Nah metode organik juga, sekaligus menjadi cara alternatif di tengah kelangkaan dan mahalnya pupuk sintesis," tutup Warga Kecamatan Cempa itu